Penanganan darurat Sungai Kamarora di Desa Kamarora B, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, dilakukan menyusul dampak gempa bumi dan banjir yang membawa material longsoran dari kawasan hulu.
Penanganan tersebut mencakup perbaikan jaringan pipa air bersih, normalisasi alur sungai, pembangunan tanggul, hingga perkuatan tebing menggunakan bronjong untuk melindungi kawasan permukiman dan persawahan.
Berdasarkan data penanganan yang diperoleh dari BWS Sulawesi III Palu, rangkaian pekerjaan dilakukan setelah gempa bumi tektonik yang mengguncang sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026.
Hasil analisis BMKG yang tercantum dalam dokumen menyebutkan gempa tersebut memiliki magnitudo 6,7 dengan episenter berada di darat pada koordinat 1,03 LS dan 120,24 BT, sekitar 42 kilometer tenggara Palu, pada kedalaman 10 kilometer.
Gempa tersebut berdampak terhadap sejumlah wilayah di Kabupaten Sigi. Selain bangunan yang roboh dan jaringan air bersih yang terputus, longsor terjadi di kawasan hulu Sungai Kamarora, Kecamatan Nokilalaki.
Situasi kemudian memburuk setelah hujan dengan intensitas cukup tinggi pada 30 Juni hingga 2 Juli 2026.
Material longsoran yang menutup kawasan hulu sungai membentuk genangan alami. Kondisi tersebut kemudian memicu banjir yang membawa material longsoran ke bagian hilir.
Dampaknya, kawasan permukiman terancam, bangunan bendung irigasi mengalami gangguan, serta areal persawahan di Desa Kamarora A dan Desa Kamarora B ikut tergenang.
Penanganan darurat Sungai Kamarora kemudian dirumuskan melalui koordinasi antara tim lapangan, pemerintah desa dan Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL).
Salah satu pekerjaan utama adalah normalisasi Sungai Kamarora sepanjang 1,4 kilometer.
Pekerjaan ini dilakukan dengan menggali sedimen yang menutup alur sungai, termasuk di sekitar jembatan desa dan kawasan persawahan.
Material hasil galian tidak hanya dipindahkan, tetapi dimanfaatkan kembali untuk membentuk tanggul di sejumlah titik yang dinilai membutuhkan perlindungan.
Di kawasan hulu bendung irigasi desa, misalnya, material hasil galian dimanfaatkan sebagai tanggul dengan panjang 17 meter dan tinggi 1,1 meter.
Penanganan juga mencakup penggalian sedimen di bagian hulu bendung irigasi.
Material hasil pekerjaan kemudian dimanfaatkan untuk membangun tanggul di sisi sungai hingga menuju bangunan jembatan.
Dokumen mencatat tanggul di sisi kiri memiliki panjang 223 meter, lebar atas 5,5 meter dan tinggi 4,9 meter.
Sementara tanggul sisi kanan memiliki panjang 207 meter, lebar atas 5 meter dan tinggi 4 meter.
Selain normalisasi, perkuatan tebing Sungai Kamarora menjadi bagian penting dalam penanganan darurat.
Perkuatan dilakukan pada sisi sungai yang berdekatan dengan kawasan permukiman. Pekerjaan bronjong memiliki panjang mencapai 150 meter.
Bronjong tersebut disusun dalam enam lapisan. Lapisan pertama ditempatkan sebagai dasar atau pondasi yang dibuat sejajar dengan dasar sungai, sedangkan lima lapisan lainnya berada di permukaan sebagai perkuatan tebing.
Total ketinggian perkuatan tebing tersebut mencapai sekitar 2,5 meter.
Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ancaman gerusan dan menjaga kawasan permukiman dari dampak aliran sungai, terutama ketika debit air meningkat.
Penanganan tidak berhenti di kawasan sekitar jembatan desa. Normalisasi dilanjutkan ke bagian hilir Jembatan Desa Kamarora sepanjang 750 meter.
Berdasarkan data penanganan, kondisi dasar sungai pascabencana di lokasi tersebut telah rata dengan area persawahan.
Akibatnya, aliran sungai yang membawa material banjir berpotensi masuk ke kawasan persawahan Desa Kamarora A maupun Desa Kamarora B.
Material hasil penggalian kembali dimanfaatkan untuk membangun tanggul di sisi kiri dan kanan sungai. Tanggul tersebut dirancang untuk melindungi area persawahan di kedua desa.
Dimensi tanggul yang tercantum dalam dokumen meliputi lebar atas 5 meter, lebar bawah 12 meter dan tinggi 4,2 meter.
Penanganan Sungai Kamarora juga menyasar infrastruktur dasar masyarakat.
Di kawasan hulu, dilakukan perbaikan jaringan pipa air bersih yang terdampak gempa dan banjir. Pekerjaan tersebut mencakup pemasangan 9 batang pipa PVC serta 50 sandbag di kawasan hulu Sungai Kamarora.
Rangkaian pekerjaan tersebut menjadi bagian dari penanganan darurat pascabencana untuk mengurangi risiko lanjutan terhadap permukiman, jaringan infrastruktur, bendung irigasi dan lahan pertanian masyarakat.
Dengan normalisasi sungai, pembangunan tanggul serta penguatan tebing menggunakan bronjong, penanganan diarahkan untuk mengembalikan fungsi aliran Sungai Kamarora sekaligus memberikan perlindungan terhadap wilayah yang berada di sepanjang aliran sungai.***









