penanganan Marka Kuning Pada Proyek preservasi Jalan Nasional Sulawesi Tengah pada koridor Poso-Tojo una una-Banggai sepanjang 586,35 kilometer (km) terus dikebut pemerintah.
Hingga kuartal III 2026, progres fisik pekerjaan telah mencapai 86,75%, melampaui target rencana sebesar 82,41%.
Capaian tersebut mencatatkan deviasi positif 4,34%. Pekerjaan berada di bawah koordinasi Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) Wilayah III Sulawesi Tengah yang membawahi empat Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
Kepala Satker PJN Wilayah III Sulawesi Tengah Chandra Prastiya mengatakan, secara umum pekerjaan masih berjalan sesuai jadwal. Namun, percepatan tetap dilakukan pada sejumlah titik yang mengalami longsor.
“Secara umum progres pekerjaan saat ini masih berada di atas progres rencana atau on schedule. Ada lingkup pekerjaan longsoran yang saat ini sedang dilakukan percepatan di lapangan,” ujar Chandra dalam keterangan tertulis kepada media ini, Kamis (24/9/2026).
Meski progres fisik berada di atas target, pembangunan dan pemeliharaan Jalan Nasional Sulawesi Tengah menghadapi tekanan dari kondisi eksternal.
Dinamika geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina, sempat berdampak terhadap rantai pasok material proyek.
Salah satu efek yang dirasakan adalah kenaikan harga BBM aspal internasional yang berpengaruh terhadap pekerjaan pengaspalan.
“Dari sisi proyek, akibat adanya perang di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina sempat menyebabkan pekerjaan pengaspalan tertunda akibat kenaikan harga BBM Aspal,” kata Chandra.
Satker PJN Wilayah III kemudian melakukan penyesuaian strategi pelaksanaan pekerjaan dengan mengoptimalkan anggaran yang tersedia.
Total pagu anggaran yang dialokasikan mencapai Rp57,157 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk empat paket preservasi jalan dan satu paket preservasi jembatan.
Dengan masa kontrak selama 11 bulan, rata-rata biaya penanganan pemeliharaan badan jalan berada di kisaran Rp70,58 juta per kilometer per tahun.
Di balik progres pekerjaan yang berada di atas target, kondisi fisik sejumlah ruas Jalan Nasional Sulawesi Tengah masih menghadapi persoalan keselamatan dan geoteknik.
Satker PJN Wilayah III mencatat sebagian geometri jalan eksisting belum memenuhi standar keselamatan.
Lebar badan jalan di sejumlah lokasi masih berada di bawah 7 meter, sementara kondisi alinyemen horizontal juga belum seluruhnya ideal.
Persoalan tersebut semakin kompleks karena terdapat sejumlah titik rawan longsor yang belum memperoleh penanganan struktur permanen.
Dengan keterbatasan anggaran, penanganan saat ini lebih banyak diarahkan pada pemeliharaan dan rehabilitasi, seperti patching, minor rehabilitation, major rehabilitation, serta holding.
Sementara ketika terjadi bencana longsor, penanganan awal dilakukan dengan membersihkan material atau debris yang menutup badan jalan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena jalur Poso-Tojo Una una-Banggai memiliki fungsi strategis sebagai salah satu koridor transportasi dan distribusi barang di Sulawesi Tengah.
Satker PJN Wilayah III menilai diperlukan dukungan anggaran lebih besar untuk melakukan rekonstruksi permanen pada sejumlah titik kritis.
Sedikitnya terdapat lima ruas yang dinilai membutuhkan perhatian untuk mengantisipasi risiko longsor dan gangguan konektivitas, yakni Uekuli-Marowo (Padapu), Marowo-Ampana, Bunta-Pagimana, Pagimana-Biak, serta Rata-Baturube.
Penanganan permanen dinilai penting untuk menjaga konektivitas jalur nasional sekaligus mengurangi potensi gangguan terhadap distribusi logistik apabila terjadi bencana.
Untuk tahun berjalan, Satker PJN Wilayah III menargetkan satu paket preservasi jembatan selesai pada akhir November 2026.
Sementara empat paket preservasi Jalan Nasional Sulawesi Tengah ditargetkan rampung seluruhnya pada akhir Desember 2026.
Dengan panjang koridor mencapai lebih dari 586 km, preservasi ruas jalan nasional yang membentang di tiga Kabuppaten di Sulawesi Tengah, Poso-Tojo una-una- Banggai menjadi bagian penting dalam menjaga konektivitas antardaerah sekaligus mendukung mobilitas masyarakat dan arus logistik di Sulawesi Tengah.
Dengan panjang koridor mencapai 586,35 km, preservasi Jalan Nasional Sulawesi Tengah tidak hanya berkaitan dengan pemeliharaan infrastruktur, tetapi juga menyangkut keberlangsungan konektivitas dan distribusi logistik antardaerah.
Progres yang telah melampaui target menjadi modal penting untuk mengejar penyelesaian pekerjaan hingga akhir 2026.
Namun, ancaman longsor dan kondisi geometrik jalan di sejumlah titik menunjukkan bahwa pemeliharaan rutin belum cukup untuk menjamin keandalan jalur dalam jangka panjang.
Karena itu, kebutuhan rekonstruksi pada lima ruas kritis menjadi pekerjaan lanjutan yang tidak dapat diabaikan.
Penanganan permanen diperlukan agar jalur Poso-Banggai tetap berfungsi sebagai koridor logistik regional dan tidak berubah menjadi titik rawan gangguan ketika bencana terjadi.
Satker PJN Wilayah III menargetkan satu paket preservasi jembatan rampung pada akhir November 2026, sementara empat paket preservasi jalan ditargetkan selesai pada akhir Desember 2026.
Setelah target tersebut tercapai, tantangan berikutnya adalah memastikan titik-titik rawan longsor memperoleh dukungan anggaran dan penanganan permanen sehingga Jalan Nasional Sulawesi Tengah tidak sekadar terjaga secara fisik, tetapi juga memiliki ketahanan terhadap risiko bencana dan gangguan konektivitas. Steff









