Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang ini menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus mendukung implementasi program Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, BERANI LANCAR.
Rekonstruksi Jalan Provinsi Sulteng 2026 pada Ruas SP. Lampasio–Muliasari terus berjalan. Penanganan jalan sepanjang 11,4 kilometer ini diproyeksikan tidak sekadar memperbaiki akses warga, tetapi juga membentuk jalur logistik baru yang menghubungkan kawasan Muliasari hingga Kabupaten Buol melalui Kokobuka dan Air Terang.
Seperti Yang Disampaikan PPK Rekonstruksi Jalan pada Ruas SP. Lampasio–Muliasari, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah kepada Media ini
Sebelum direkonstruksi, kondisi Ruas SP. Lampasio–Muliasari masih didominasi perkerasan tanah. Saat hujan turun, permukaan jalan berubah menjadi kubangan lumpur sehingga kendaraan kesulitan melintas.
Kondisi tersebut semakin berat ketika debit Sungai Oyom meningkat. Banjir membuat akses transportasi terputus dan mobilitas masyarakat dari Maibua menuju Muliasari ikut terganggu.
Bagi masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonomi pada sektor pertanian dan hasil bumi, persoalan jalan bukan sekadar masalah kenyamanan berkendara.
Jalan yang sulit dilalui berarti biaya angkut lebih tinggi, waktu perjalanan lebih panjang, sekaligus meningkatkan risiko kerusakan kendaraan dan hasil produksi selama perjalanan.
Rekonstruksi jalan kemudian diarahkan untuk mengubah kondisi tersebut.
Dengan panjang penanganan mencapai 11,4 kilometer, ruas ini dipersiapkan menjadi infrastruktur yang dapat mendukung mobilitas masyarakat sekaligus memperlancar arus barang dari wilayah produksi menuju pusat-pusat perdagangan.
Dari sisi konstruksi, pekerjaan tidak berhenti pada perataan badan jalan.
Penanganan mencakup sejumlah pekerjaan teknis, mulai dari galian tanah, galian batu, pemasangan deuker plat, box culvert, timbunan Kelas A hingga pelapisan aspal AC-WC.
Lapisan AC-WC menjadi bagian penting dari struktur perkerasan karena menjadi lapisan permukaan yang bersentuhan langsung dengan kendaraan.
Jalan yang lebih mantap dan dapat digunakan sepanjang tahun akan memberi efek langsung terhadap mobilitas masyarakat.
Kendaraan pengangkut hasil pertanian dapat bergerak lebih lancar, sementara biaya operasional perjalanan berpotensi lebih terkendali dibanding ketika harus melewati jalan tanah dan berlumpur.
Artinya, pembangunan jalan berpotensi memberikan dampak berantai terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Hasil bumi dari kawasan produksi dapat lebih mudah dibawa keluar. Pedagang memperoleh akses transportasi yang lebih baik, sementara masyarakat mendapatkan jalur mobilitas yang lebih aman.
Salah satu bagian strategis dalam proyek ini adalah pembangunan Jembatan Limpas Oyom 1 dengan bentang 35 meter.
Jembatan tersebut dirancang menggunakan pondasi sumuran dengan konstruksi girder baja bentang 35 meter.
Keberadaan jembatan menjadi penting karena Sungai Oyom sebelumnya merupakan salah satu titik yang dapat menghambat mobilitas masyarakat ketika debit air meningkat.
Dengan konstruksi permanen tersebut, akses diharapkan menjadi lebih andal dibanding mengandalkan kondisi badan jalan dan lintasan sungai yang sangat dipengaruhi cuaca.
Selain jembatan, pembangunan deuker plat dan box culvert juga menjadi bagian dari sistem drainase dan pengendalian aliran air pada ruas tersebut.
Bagi proyek jalan di wilayah dengan tantangan geografis dan curah hujan tinggi, konstruksi pendukung semacam ini menjadi bagian penting untuk menjaga umur layanan jalan.
Dalam jangka panjang, nilai strategis proyek Jalan Provinsi Sulteng 2026 ini berada pada fungsi konektivitasnya.
Ruas SP. Lampasio–Muliasari diproyeksikan menjadi bagian dari jalur yang menghubungkan kawasan tersebut menuju Muliasari–Kokobuka–Air Terang, hingga terkoneksi dengan Kabupaten Buol.
Jika konektivitas tersebut semakin terbuka, jalur ini tidak hanya digunakan untuk mobilitas masyarakat lokal, tetapi berpotensi menjadi salah satu alternatif pergerakan orang dan barang antarkawasan.
Bagi pengendara, jalur baru berarti pilihan rute yang lebih mudah dan aman. Bagi pelaku usaha, konektivitas berarti akses yang lebih dekat terhadap pasar dan jalur distribusi.
Efek lanjutannya dapat terlihat pada rantai pasok.
Semakin mudah hasil pertanian dan komoditas lokal dibawa dari sentra produksi, semakin kecil hambatan transportasi yang harus ditanggung pelaku usaha.
Pada titik inilah pembangunan infrastruktur jalan bertemu langsung dengan agenda penguatan ekonomi daerah.
Pembangunan Ruas SP. Lampasio–Muliasari juga sejalan dengan semangat BERANI LANCAR, program Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang menempatkan konektivitas jalan sebagai salah satu instrumen untuk membuka akses wilayah dan memperlancar aktivitas masyarakat.
Jalan tidak hanya dipandang sebagai infrastruktur fisik, tetapi sebagai penghubung antara sentra produksi, permukiman, pasar dan pusat pertumbuhan ekonomi.
Dengan penanganan 11,4 kilometer, konstruksi AC-WC, sejumlah bangunan pelengkap, serta Jembatan Limpas Oyom 1 sepanjang 35 meter, proyek ini diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih panjang bagi masyarakat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan jalan bukan hanya seberapa mulus permukaannya setelah selesai dibangun.
Lebih jauh, manfaatnya akan terlihat dari seberapa lancar masyarakat membawa hasil bumi, seberapa mudah kendaraan bergerak, seberapa pendek waktu distribusi, dan seberapa besar biaya transportasi yang dapat ditekan.
Jika konektivitas Muliasari–Kokobuka–Air Terang terus berkembang, ruas ini berpotensi menjadi salah satu mata rantai penting yang memperkuat hubungan ekonomi antara wilayah selatan dan utara Sulawesi Tengah, sekaligus membuka akses yang lebih dekat menuju Kabupaten Buol.***









