Jalan berlubang di sejumlah titik ruas nasional Taripa–Pape–Tidantana dan Taripa–Tomata–Beteleme mulai mendapat penanganan.

Melalui Paket Preservasi Jalan Tahun Anggaran 2026, Satker Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah IV Sulawesi Tengah bergerak melakukan perbaikan untuk menjaga keselamatan pengguna jalan di ruas sepanjang 151,60 kilometer tersebut.
PPK 4.2 Satker PJN Wilayah IV Sulawesi Tengah, Mohammad Febriant, ST., MT., mengatakan pekerjaan fisik di lapangan saat ini telah berjalan dengan fokus pada penanganan awal kerusakan jalan.
“Sampai saat ini sedang dikerjakan pemarasan tanaman, penambalan lubang sementara dan pekerjaan patching dengan CAP,” kata Febriant.
Penanganan jalan berlubang menjadi prioritas utama dalam paket preservasi ini.
Selain perbaikan badan jalan, tim di lapangan juga melakukan sejumlah pekerjaan pendukung guna menjaga fungsi ruas secara optimal.
Menurut Febriant, pihaknya masih membutuhkan dukungan pelaksana pekerjaan untuk mempercepat proses patching dengan CAP, grading bahu jalan, serta pengerukan drainase di sejumlah titik.
“Kami butuh bantuan PJ untuk patching dengan CAP dan grading bahu jalan juga pengerukan drainase,” ujarnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perbaikan ruas jalan nasional yang menghubungkan sejumlah wilayah strategis di Kabupaten Morowali Utara dan sekitarnya.
Dalam waktu dekat, fokus pekerjaan masih diarahkan pada penanganan titik-titik kerusakan yang berpotensi mengganggu keselamatan pengguna jalan.
Febriant menegaskan bahwa penambalan jalan berlubang menjadi agenda prioritas yang harus segera diselesaikan.
“Kami memprioritaskan untuk penambalan lubang untuk menjamin keselamatan pengguna jalan,” katanya.
Penanganan jalan berlubang oleh BPJN Sulteng tersebut dinilai penting mengingat ruas Taripa–Pape–Tidantana dan Taripa–Tomata–Beteleme merupakan jalur mobilitas masyarakat dan distribusi barang.
Dalam pelaksanaan proyek preservasi jalan nasional ini, sejumlah tantangan masih dihadapi di lapangan.
Faktor cuaca, kondisi tanah yang labil, hingga tingginya lalu lintas kendaraan besar menjadi penyebab utama kerusakan jalan.
“Faktor cuaca, kondisi tanah yang labil dan lalu lintas kendaraan besar memegang kontribusi terbesar dalam kerusakan jalan,” jelas Febriant.
Kondisi tersebut juga diperparah oleh aktivitas kendaraan bertonase tinggi maupun kendaraan over dimension over loading (ODOL) yang berpotensi mempercepat penurunan kualitas perkerasan jalan.
Meski demikian, pihaknya memastikan seluruh pekerjaan tetap dilaksanakan sesuai standar teknis yang berlaku.
“Kami berusaha untuk selalu melaksanakan pekerjaan dengan standar sesuai ketentuan Binamarga,” tegasnya.
Berdasarkan data pelaksanaan, dalam penanganan efektif ruas ini terdapat pekerjaan penanganan mayor sepanjang 200 meter dan penanganan minor sepanjang 4,4 kilometer.
Paket Preservasi Jalan Taripa–Pape–Tidantana dan Taripa–Tomata–Beteleme Tahun Anggaran 2026 diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan jalan nasional sekaligus menekan risiko kecelakaan akibat jalan berlubang.
Dengan penanganan yang terus berjalan, konektivitas dan kelancaran distribusi logistik di wilayah Morowali Utara diharapkan semakin terjaga.











